Pangkalpinang Galakkan Pengerukan Sungai, Siaga Total Hadapi Ancaman Banjir Musim Hujan
PangkalPinang– Menyambut puncak musim hujan, Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang tak mau lengah. Sebagai bentuk antisipasi dini, pemerintah setempat meluncurkan aksi nyata dengan melakukan pengerukan sungai-sungai yang mengalami pendangkalan signifikan. Langkah proaktif ini diharapkan menjadi benteng andalan untuk meminimalisir risiko banjir yang kerap melanda kawasan permukiman dan pusat perdagangan.

Baca Juga : Suasana Kantor FIFGROUP Pangkalpinang Berubah Jadi Pusat Kebahagiaan, Ini Sebabnya!
Aksi pertama telah dimulai di lokasi yang dinilai krusial, yaitu di belakang Pasar Pembangunan Pangkalpinang. Sungai di area ini dilaporkan telah menyempit dan mendangkal akibat timbunan tanah, lumpur, serta sampah yang menggunung.
“Kami tidak bisa hanya menunggu. Pengerukan di belakang Pasar Pembangunan adalah langkah awal kami. Titik ini merupakan salah satu titik rawan yang jika tidak ditangani, akan memicu genangan air bahkan banjir yang mengganggu aktivitas ekonomi warga,” tegas Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, saat dikonfirmasi pada hari Minggu.
Saparudin tak memungkiri bahwa ancaman banjir pada musim hujan tahun ini cukup tinggi. Menurutnya, kapasitas tampung dan aliran sungai serta drainase di berbagai sudut kota telah berkurang drastis. “Penyempitan dan pendangkalan akibat sedimentasi lumpur dan sampah telah membuat ‘pembuluh darah’ air kota kami tersumbat. Karena itu, operasi pendalaman alur sungai, drainase, dan selokan adalah sebuah keharusan,” paparnya dengan nada serius.
Sinergi dengan Peringatan BMKG
Benteng Kewaspadaan Pemkot Pangkalpinang bukannya tanpa alasan. Peringatan resmi telah disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setempat. Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Pangkalpinang, Slamet Supriyadi, mengingatkan seluruh pihak untuk mewaspadai peningkatan potensi bencana hidrometeorologi.
“Kami telah memasuki periode musim hujan. Ini artinya, potensi kejadian cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi panjang, angin kencang, dan puting beliung menjadi lebih tinggi. Bencana hidrometeorologi ini sangat dipengaruhi oleh anomali cuaca dan iklim, sehingga langkah antisipasi dari semua pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, mutlak diperlukan,” jelas Slamet.
Peringatan ini semakin mengukuhkan langkah Pemkot untuk bergerak cepat. Pengerukan bukan hanya soal mengeruk lumpur, tetapi sebuah upaya sistematis untuk mengembalikan fungsi alamiah sungai sebagai jalur penyalur air.
Keterlibatan Masyarakat: Kunci Keberhasilan
Namun, pemerintah menyadari bahwa upaya teknis seperti pengerukan tidak akan optimal tanpa diiringi oleh kesadaran penuh dari masyarakat. Wali Kota Saparudin secara khusus menyampaikan imbauan kepada seluruh warganya.
“Saya telah meninjau langsung lokasi pengerukan. Kondisinya memprihatinkan; tanah, lumpur, dan sampah rumah tangga bersatu menyumbat sungai. Saya tidak bisa menekankan enough, jaga kebersihan lingkungan dan hentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai atau saluran air,” imbaunya. “Infrastruktur yang kami bangun dan rawat akan percuma jika ‘sampah’ masih menjadi penghalang utama.”
Upaya pengerukan ini diharapkan dapat memperlancar aliran air hujan, mengurangi genangan, dan pada akhirnya menekan angka kejadian banjir. Pemkot Pangkalpinang berkomitmen untuk terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi infrastruktur drainase kota, sambil bersiap dengan langkah-langkah tanggap darurat jika diperlukan. Kerja sama dan kewaspadaan bersama menjadi senjata utama menghadapi tantangan musim hujan tahun ini.






