Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Langit Merawang Menyala Membakar Dewa Raksasa demi Tradisi Suci

Skintific

Api Suci dan Semangat Gotong Royong: Menyaksikan Ritual Pembakaran Thai Se Ja yang Megah di Bangka

PangkalPinang- Suasana malam di Kelenteng Ho Hap Miaw, Desa Merawang, Kabupaten Bangka, berubah menjadi sebuah panorama spektakuler yang penuh makna. Kobaran api menjilat-jilat ke langit, menyelimuti sebuah patung raksasa setinggi 13 meter yang menggambarkan Dewa Thai Se Ja. Peristiwa sakral ini bukanlah sebuah musibah, melainkan puncak dari tradisi tahunan Sembahyang Rebut atau Chit Ngiat Pan yang digelar oleh masyarakat Tionghoa setempat. Patung senilai fantastis, sekitar Rp 25-30 juta itu, dengan sengaja dibakar dalam sebuah ritual penuh filosofi.

Langit Merawang Menyala Membakar Dewa Raksasa demi Tradisi Suci
Langit Merawang Menyala Membakar Dewa Raksasa demi Tradisi Suci

Baca Juga : PT Timah Apresiasi Kehadiran Satgas Tambang Timah di Babel

Skintific

Mengenal Sang Dewa Pengantar Arwah

Langit Thai Se Ja, atau sering juga disebut Tai Su Ye, adalah sosok dewa akhirat yang sangat dihormati dalam kepercayaan Tionghoa. Ia digambarkan sebagai raksasa yang bertubuh besar dan tinggi, biasanya dalam posisi duduk dengan wajah yang berwibawa. Di tangannya, tergenggam dua benda pusaka yang penuh arti: sebuah pena dan sebuah buku.

Kedua benda ini bukanlah hiasan biasa. Buku tersebut adalah catatan lengkap tentang amal dan dosa setiap manusia, sementara penanya adalah alat untuk mencatat segala perbuatan arwah gentayangan yang ia temui. Thai Se Ja diyakini sebagai penguasa dan pengatur kehidupan akhirat yang bertugas mengantarkan arwah-arwah yang tersesat kembali ke dunia sana (alam baka), sekaligus menjadi hakim yang mencatat segala perbuatan mereka selama di dunia.

Puncak Ritual: Pembakaran sebagai Tanda Tugas Selesai

Pembakaran patung yang megah ini adalah simbol sentral dari seluruh rangkaian Sembahyang Rebut. Langit Ritual ini menandakan bahwa tugas Thai Se Ja untuk tahun itu telah usai dengan sempurna. Sang Dewa telah menyelesaikan misinya mengumpulkan dan mengantarkan arwah-arwah gentayangan kembali ke tempatnya, sehingga mereka tidak lagi berkeliaran di dunia manusia.

Sebelum api dinyalakan, masyarakat terlebih dahulu melakukan prosesi sembahyang khidmat di dalam kelenteng. Mereka berdoa dan memberikan penghormatan terakhir kepada sang Dewa. Tidak hanya patung Thai Se Ja, sebuah patung perahu sepanjang 12 meter yang juga terbuat dari bahan serupa turut dibakar. Perahu ini melambangkan kendaraan yang akan membawa Thai Se Ja beserta arwah-arwah yang ia kumpulkan menuju alam baka.

Tradisi Berebut yang Sarat Makna

Sebelum pembakaran, terjadi sebuah tradisi unik dan penuh semangat yang memberi nama pada acara ini: “Sembahyang Rebut”. Berbagai bahan makanan dan sesajen, seperti buah-buahan, kue keranjang, dan bahkan daging babi utuh, yang sebelumnya dipersembahkan untuk para arwah, diletakkan di sekitar patung. Begitu tanda dimulai, puluhan bahkan ratusan warga berebut mengambil bahan makanan tersebut dalam waktu yang sangat singkat, kurang dari satu menit!

Menurut Darwin, salah seorang panitia penyelenggara, filosofi dari berebutan ini sangat dalam. “Sesajen-sesajen itu pertama-tama diperuntukkan bagi arwah-arwah gentayangan. Jadi, setelah ‘dimakan’ secara spiritual oleh para arwah, barulah secara fisik diperebutkan oleh masyarakat,” ujarnya. Makanan yang “disucikan” ini dipercaya akan membawa berkah, keselamatan, dan rezeki bagi yang berhasil mendapatkannya.

Karya Gotong Royong yang Membanggakan

Keistimewaan lain dari acara ini terletak pada proses pembuatan patungnya. Darwin menjelaskan bahwa patung senilai puluhan juta rupiah itu dibuat dengan proses gotong royong murni selama kurang lebih tiga bulan. Para sukarelawan mengerjakannya hanya pada hari Minggu dan hari libur lainnya.

Patung dibangun dengan kerangka dari kayu dan kawat, kemudian dilapisi secara berulang dengan berbagai jenis kertas yang ditempel. Tahap terakhir adalah proses membentuk detail dan mencatnya sehingga menyerupai wujud Thai Se Ja yang gagah. “Kita kerjakan tanpa ada upah. Perkiraan biaya Rp 25-30 juta itu hanya untuk material bahannya saja, sama sekali tidak termasuk biaya tenaga,” tegas Darwin, menunjukkan betapa kuatnya semangat kebersamaan dan religiusitas masyarakat dalam melestarikan tradisi ini.

Lebih dari Sekadar Ritual: Pemersatu dan Penggerak Ekonomi

Kehadiran tradisi Sembahyang Rebut ini telah melampaui makna religiusnya semata. Bambang Patijaya, anggota DPR RI dari Dapil Provinsi Bangka Belitung yang hadir dalam acara tersebut, melihat nilai lebih dari ritual ini.

“Selain sebagai wujud religiusitas dan pelestarian adat budaya, Sembahyang Rebut yang diselenggarakan setiap tanggal 15 bulan 7 Imlek ini dianggap mampu membangkitkan perekonomian lokal,” ujarnya. Acara yang menarik ribuan pengunjung dan wisatawan ini mendorong perputaran ekonomi, mulai dari para pedagang kuliner, penjual dupa dan peralatan sembahyang, hingga usaha penginapan dan transportasi.

Ritual pembakaran Thai Se Ja di Kelenteng Ho Hap Miaw adalah sebuah mahakarya budaya yang utuh. Ia memadukan kepercayaan, seni, gotong royong, dan ekonomi dalam satu rangkaian peristiwa yang memukau.

Skintific